jump to navigation

Holy land Oktober 23, 2009

Posted by kedung in Uncategorized.
add a comment

Radio Online Oktober 19, 2009

Posted by kedung in Uncategorized.
add a comment

Select Channel Radio Elshinta Sonora Green Radio Otomotion Wijaya FM DJFM FBIFM Global FM Hardrock Kosmonita Makobu MenaraFM Mercury Star FM Metro Female Christian RadioRPK FMNafiriElshaddaiSuara Gratia CirebonMGradioRhemaLight GenerationHeartlineGlministry
Radio DaerahRadio Garuda SurinameRadio Go BatakRadio Kitai (Dayak Iban)Radio Mayangkara(Tulungagung)

Hello world! Oktober 15, 2009

Posted by kedung in Uncategorized.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

PENDETA KAYA BERKAT LUAR BIASA September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

JAMAN ini tepat seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam 2 Timotius 3: 2; jaman uang. “Manusia akan menjadi hamba uang,” tegas Paulus. Ya, kecintaan akan uang memang telah menggilas habis nurani banyak orang. Dalam surat yang sebelumnya kepada Timotius, Paulus juga telah menyinggung hal ini. Dalam 1 Timotius 6:10, dia berkata: Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Sebuah kenyataan yang menggelisahkan.

Idealisme nyaris tak tersisa, bahkan jika ada yang memilikinya seringkali dianggap bodoh, tidak realistis, melepas kesempatan emas, dan berbagai penilaian lainnya. Orang tak segan-segan menjual kebenaran demi uang. Hati nurani secara perlahan tapi pasti, teriris habis. Dengan mudah kita menemukan pertengkaran hingga permusuhan karena uang. Bahkan kasus pembunuhan bermotif uang semakin meninggi jumlahnya. Pertalian darah dengan mudah bisa “putus” karena harta warisan yang juga sama dengan uang. Wajah dunia makin hari makin menyedihkan, tak lagi mampu memancarkan kemurnian yang murni. Kehidupan terus berubah, penuh basa-basi, semakin kehilangan arti kasih yang sejati, karena semua bisa dibeli. Orang kini bisa membeli senyuman, bahkan “perkawanan” hingga “pernikahan”. Semboyan asal ada uang semua bisa datang, semakin mendapat pembenaran dalam kenyataan. Namun yang paling menyedihkan adalah runtuhnya tembok keimanan.

Iman, yang seharusnya membuat manusia beriman berdiri teguh di tengah badai godaan uang, ternyata, juga turut mengalami goncangan. Banyak orang “beriman” kini tak lagi menyukai iman. Iman dianggap menyingkirkan diri dari pergaulan jaman. Orang tak dihargai karena beriman, melainkan karena beruang, begitu sinis yang muncul. Di lingkungan rohani virus ini terus menyebar luas. Ironis. Kini ada guyonan pahit: Jika berbisnis bukalah gereja, dijamin tak rugi, bahkan terkesan suci. Mengapa? Karena ternyata banyak “petinggi gereja” yang memang berbisnis dalam membuka gereja. Jabatan “pendeta” menempel tanpa pernah jelas dari mana asalnya, dan bagaimana bisa meraihnya. Pemahaman teologi tak ada, berkhotbah tak pernah, yang ada hanya kata bagaikan mantera, “Roh Tuhan berbicara pada saya…” Visi diungkapkan seakan datang dari surga untuk digarap di Bumi. Namun jika dicermati, hati tersentak karena semua bermuara pada sang pendeta.

Yang lain mungkin sedikit lebih baik dalam kemampuan. Sekalipun tak memiliki pemahaman teologi, namun karena fasih lidah sang pendeta berkhotbah. Yang dikisahkan selalu yang meninabobokkan umat. Sukses yang semu dikumandangkan dalam apa yang disebut kesaksian, sementara kebenaran sebagai buah hidup orang percaya, nyata-nyata, tak tampak. Pendekatan emosi selalu menjadi pola karena sukses mendulang hasil. Lagi-lagi ungkapan rohani: “sentuhan Roh Kudus”, menjadi kata-kata sakti yang membutakan umat untuk tak lagi menguji segala sesuatu. Padahal Alkitab jelas berkata, “jangan padamkan Roh, namun ujilah segala sesuatu” (1 Tesalonika 5:19,21). Umat percaya habis, dan dana mengalir kencang. Tampaknya tak jelas berakhir di mana. Karena ada gedung gereja, aset gereja dan lainnya. Seakan pemakaian uang tampak nyata, namun ternyata, di balik semuanya tersisa masalah yang luar biasa. Aset atas nama pribadi pendeta, sering terungkap setelah pendeta tiada. Terjadilah tarik-menarik aset yang sungguh tak menarik sama sekali.

Yang sedikit lebih canggih, aset atas nama yayasan, atau bahkan gereja. Namun dalam akte notaris ternyata susunan pengurus didominasi oleh keluarga pendeta. Lagi-lagi untuk suara terbanyak, pengurus dan umat kecele. Tapi ada yang lebih halus lagi, seakan pengurus tidak didonimasi keluarga pendeta, namun ternyata bunyi klausul yang ada memberikan kekuasaan tak terbatas pada pendeta atau segelintir orang dekat pendeta, atas aset yang ada. Umat selalu berkata, itu urusan pendeta dengan Tuhan, dan tentu saja pendeta senang karena memang pemahaman itu yang ditabur untuk dituai. Umat telah digiring pada paham yang salah, sehingga tak lagi kritis, apalagi menguji sesuai kata Alkitab. Belum lagi ketakutan akan kutuk yang selalu ditebar, seperti “jangan mengganggu pendeta, karena dia adalah biji mata Tuhan”. Pengultusan dilakukan dalam waktu yang lama lewat indoktrinasi. Sayangnya, umat semakin teggelam dan gelap mata menghargai pendeta, sekalipun nyata-nyata salah. Apalagi jika lingkungan pelayanan diwarnai suasana adan ajaran yang mistis, dan lagi-lagi, obral kata-kata “kehendak Roh”.read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

SUSAHNYA SI KAYA KE SURGA September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

JUDUL di atas tentu saja tak berarti bahwa bagi si miskin terbuka jalan lebar menuju surga. Juga bukan berarti bahwa pintu surga tertutup bagi orang kaya. Jalan ke surga, bukan soal orang kaya atau orang miskin, melainkan anugerah percaya kepada Yesus Kristus Tuhan. Kaya itu bukan dosa, tapi miskin juga bukan aib. Yang dosa, atau aib itu adalah sikap yang menomorduakan Tuhan. Kekayaan, memang piawai sebagai godaan, banyak orang yang terjatuh karenanya. Bahkan secara khusus Yesus Kristus mengingatkan dalam perumpamaan tentang penabur, seperti benih yang jatuh di semak berduri, maka kekhawatiran dan tipu daya kekayaan dunia, menghimpit dan mematikan benih itu (Matius 13: 22). Benih tak sempat bertumbuh, apalagi berbuah.

Adalah suatu tragedi, di mana kebanyakan orang Kristen yang rajin ke gereja hanya untuk kepuasan diri semata. Meriah di dalam gedung gereja, tapi nyaris tak berdaya dalam amuk dunia nyata, yang memang semakin hari terasa semakin menggila. Dan, lebih gila lagi, ketika kekayaan menjadi target dalam keberimanan pada Yesus Kristus yang justru mengkritisi kekayaan itu sendiri. Bahkan dengan suara membahana, banyak pengkhotbah berkata, “Kita harus kaya, sekali lagi harus kaya!” Ya, kaya itu jadi ukuran pembuktian bahwa kita anak raja. Itu kata mereka. Anjuran mereka sangat bertolak belakang dengan peringatan Yesus, yang bahkan hingga kematiaan-Nya, tak mewariskan harta benda apa pun juga, bahkan pada Maria, ibu-Nya. DIA hanya memercayakan Maria kepada Yohanes murid-Nya. Yohanes dipercaya untuk mengurus Maria di hari tuanya.

Kelihatannya, ajaran Yesus agak berbeda dengan kebanyakan pengkhotbah masa kini. Entah siapa yang salah, Anda harus belajar menelaah. Ingat kekayaan bukan dosa, namun menjadikannya inti ambisi, sungguh sulit dimengerti. Kekayaan sah-sah saja, namun itu adalah berkat Tuhan bagi orang yang diperkenan-Nya. Besar kecilnya, mutlak tergantung Tuhan, tapi di sisi lain, juga tak bisa dilupakan rajin dan malasnya tiap pribadi dalam berkarya. Ingat, Tuhan benci pada orang malas (Amsal 6: 6). Apakah anak Tuhan bisa kaya? Ya tentu saja, tapi itu bukan tujuan utama, apalagi dijadikan keharusan dan pembuktian iman. Bagaimana mau kaya jika Tuhan mengutus seseorang ke pedalaman? Kalau sampai dia kaya, malah jadi tanda tanya. Tujuan hidup utama kita sebagai orang percaya adalah menyatakan kemulian Tuhan lewat hidup kita, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Mungkin ada yang berkata, “Bagaimana mau menjadi berkat jika kita miskin?” Sebuah pertanyaan yang sangat naïf dan bersifat membodohi! Apakah Yesus menjadi berkat karena DIA kaya, atau para rasul yang bukan tergolong kaya itu tidak menjadi berkat? Bacalah Kisah Para Rasul, dan simak ucapan Petrus di Bait Allah kepada seorang peminta-minta, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunya kuberikan kepadamu. Demi nama Yesus Kristus orang Nazareth itu berjalanlah (Kisah 2: 6).

Kekayaan utama mereka bukan harta, melainkan iman. Dan itulah kekayaan sejati yang harus dimiliki setiap orang percaya. Sementara, ada yang lain melihat kasus Lazarus si miskin masuk surga, namun berkelit dengan berkata, “Lazarus duduk di pangkuan siapa?” Jawab mereka, “Di pangkuan Abraham, orang kaya”. Mereka lupa, Abraham memang kaya, tapi dikenal bukan sebagai orang kaya, melainkan orang beriman, bahkan menjadi bapa orang beriman. Ingat sekali lagi, kekayaan bukan tujuan utama, bahkan Abraham tak pernah mencanangkan itu, melainkan keberimanan. Kekayaan adalah bonus atas kerajinan, kesungguhan, kejujuran, dan tentu saja ketaatan pada firman Tuhan.

Karena itu tidak mengherankan jika Yesus juga berkata, “Bahwa orang kaya sukar masuk kerajaan surga” (Matius 19: 23). Tapi orang kaya sukar masuk surga bukan karena kekayaannya, melainkan sikap terhadap kekayaan itu. Kekayaan dijadikan ukuran iman, ukuran berkat Tuhan, dan akhirnya, percaya kepada Tuhan adalah mendapat kekayaan. Jika tidak kaya, Anda mengerti sendiri maknanya. Karena itu, menjadikan kekayaan sebagai tujuan utama sangat mengerikan. Berkata, “Kita harus beriman, yaitu menjadi kaya”, tak lebih dari sugesti. Itu bukan iman, itu biasa dalam dunia psikologi, dalam dunia motivasi.

Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

BERBAKTI DEMI ROTI September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

PERCAYA atau tidak, sejak jaman Yesus melayani, bahkan di era Perjanjian Lama (PL), perilaku berbakti demi roti ternyata telah lama bersemi. Pelayanan Yesus selalu ramai dengan orang-orang dari berbagai kelas, juga berbagai motivasi. Dengan mudah kita menemukan Yesus yang melayani kelas bawah, namun DIA tak kagok di lingkungan elit. Melayani tanpa pernah terjebak motivasi yang salah, membedakan pelayanan berdasarkan kelas tertentu. Yesus yang melayani dalam kebenaran yang utuh, tak pernah sungkan menghardik, bahkan mencela siapa saja yang berlaku salah. Bahkan ahli Taurat disebutnya si pemimpin buta, yang penuh dengan perilaku tercela. Orang kaya disindirnya sebagai manusia yang terikat dengan harta, juga susah masuk surga.

Tapi, tunggu dulu, tak sedikit orang miskin juga dicela karena memiliki motivasi yang salah. Hal itu tampak nyata ketika kebanyakan dari mereka datang beribadah ternyata untuk mencari roti. Dalam Yohanes 6:1-15 dikisahkan, ketika Yesus melakukan mukjizat dalam pelayanan di tepi Danau Tiberias. Ada banyak orang yang datang karena melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan yang telah dilakukan Yesus. Menarik, catatan Yohanes, orang banyak rela berdesak karena mukjizat, bukan karena haus akan kebenaran berita Injil. Jadi, tidaklah mengherankan ketika mereka dikritik oleh Yesus Kristus sebagai pencinta roti belaka, bukan pencinta kebenaran (Yohanes 6: 26). Mereka tak melihat mukjizat sebagai tanda kehadiran dan penyertaan Allah, melainkan sebagai pemuas diri semata. Kesembuhan dilihat sebagai “saya telah sembuh”, bukan “Yesus hadir di hidup saya”.

Kalimat-kalimat yang terucap “terimaksih Yesus, Allah maha kuasa”, tak lebih karena mengalami mukjizat, namun tak kuat ketika badai kehidupan bertiup. Semua orang getol untuk melihat mukjizat dalam sebuah kebaktian, namun tak tampak dalam mencari kebenaran. Semua berdiskusi tentang cara, penampakan, dan model mukjizat, namun tak pernah mendalami apa yang menjadi kehendak Allah yang sesungguhnya. Orang banyak datang ke kebaktian kebangunan rohani (KKR), bagai hendak menonton konser mukjizat. Semua seperti tertipu dengan fakta, betapa gembala tak seperti gembala, tapi lebih pas bagai selebritis kelas atas. Buah hidup, sebagaimana yang digugat Yesus sebagai bukti pengenalan akan pohon, diabaikan. Kekristenan bagai arena demonstrasi “adu hebat mukjizat”, layaknya dunia perdukunan di dunia kebatinan. Dan, gong bersambut karena ternyata orang banyak memang mau itu. Orang banyak yang mengikut Yesus karena telah makan roti, tentu saja berharap akan makan roti, dan, makan roti lagi. Banyak yang datang bukan karena kebenaran tapi karena mukjizat roti. Dan, ikut Yesus disamakan dengan dapat roti.

Tragis. Tapi itulah kenyataannya. Yesus sendiri telah menelanjanginya. Namun yang lebih ironis, ternyata umat tak pernah belajar. Tua, muda, pria, wanita, kaya, miskin, semua tampak sama, terjebak lagi dalam konstelasi berbakti demi roti. Banyak orang datang berbakti ke tempat yang ada roti, tapi tak rela pergi ke ibadah yang menggugah, yang menggali kebenaran secara utuh. Yang menyediakan roti dengan alasan belas kasihan dan kepedulian pelayanan, sementara yang datang dengan motivasi demi perut agar terisi. Ada roti, kebaktian penuh. Tak ada roti, segera sepi. Mereka berpindah bagaikan hunter tulen, berburu roti dari satu persekutuan ke persekutuan lainnya. Maksud baik menolong, dengan menyediakan roti, malah menjadi ajang pengguguran kesejatian iman.

Hmm, betapa pentingnya sikap kritis, dan perhitungan melakukan aksi kasih, agar tak salah arah, atau, malah mencipta yang salah. Maksud baik saja tak cukup. Lihatlah Yesus Kristus, Tuhan sumber baik, yang mahabaik itu, DIA tetap mengkritisi sikap iman tiap orang, tak peduli apa atau bagaimana posisi strata ekonominya. Yesus kritis, itu adalah kesejatian iman yang teruji. Yesus tegas, itu adalah keunggulan iman yang tangguh. Tak ada motivasi yang tersembunyi, dan memang tak boleh ada. Roti memang perlu, namun bukan yang utama. Di sisi lain, tak kurang penggemar “mukjizat” lainnya. Mereka selalu riuh rendah, dan rela merogoh kocek dan berdesakan untuk menghadari kebaktian demonstrasi mukjizat. Tak jelas, apakah mereka membaca Kitab Suci, membaca kritik Yesus sendiri. Mobilisasi ratusan, bahkan ribuan orang, yang menghabiskan dana yang tak kecil sering terjadi, hanya untuk sebuah kebaktian yang mendemonstrasikan mukjizat. Sungguh berbeda dengan sikap Yesus yang mengkritik mereka yang datang berbondong-bondong untuk mukjizat, maka ini, alih-alih mengkritik, para pengkhotbah malah senang. Alasan mereka toleransi, atas nama iman yang masih bayi, sekalipun yang datang orang Kristen yang sudah tahunan. Dan, sesudah itu juga tak ada follow up, alias pemuridan, kecuali follow me, alias pengikut.read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

POLITIK UANG DI GEREJA September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment
ISU politik uang sangat familiar di ranah politik, bahkan sudah menjadi bagian dari percaturan politik di segala lapisan. Arus uang telah dianggap selalu mewarnai tiap keputusan politis. Uang dinilai sangat strategis dan taktis sebagai alat, dan sangat erat kaitannya dengan kekuasaan dan kemudahan yang laris manis diperjualbelikan. Uang yang tak “beragama” telah menguasai umat yang mengaku beragama. Pilkada di beberapa daerah nyaris tak pernah lepas dari politik uang. Yang menang diisukan bermain uang, sementara yang kalah menggugat dengan setumpuk bukti versi mereka.

Maka tak heran jika kemudian banyak para pemimpin yang terjerat korupsi. Hitungannya sederhana, mereka telah merasa habis-habisan untuk memenangkan pemilihan, jadi supaya balik modal bahkan untung, ya cuma satu, korupsi. Bahwa rakyat terbengkalai, menjadi korban, siapa yang peduli. Tapi yang pasti, tak satu pun kasus seperti ini berakhir di pengadilan dengan putusan yang terang-benderang. Uang membuat yang jelas menjadi tersamar. Bahkan anak muda mengatakan, “Tau ah, gelap”. Ironi, tapi itulah realita politik yang kehilangan etika. Ucapan tak lagi bisa dipegang, karena bisa berubah cepat, dalam kecepatan tinggi pula.

Sekarang, kalau politik uang mewarnai perjalanan gereja, bukankah itu sebuah kegelapan yang sangat menyedihkan? Gereja yang seharusnya menjadi garam dan terang sesuai panggilannya, berubah menjadi tawar dan gelap. Ternyata, sejak dulu, gereja sebagai institusi telah mengalami polusi panjang. Lihat saja perilaku para ahli Taurat yang berpolitik sesat. Begitu bernafsunya mereka untuk menyalibkan Yesus, yang dinilai telah menelanjangi borok mereka dalam pelayanan gereja. Yesus yang membongkar praktek gelap mereka dengan detail (Matius 23:1-36), soal kerakusan pada uang (ay.25), hingga kemunafikan dalam perilaku sebagai pemimpin agama (ay.27).

Para ahli Taurat, yang ternyata hanya ahli membicarakan Taurat, tapi sama sekali tidak ahli melakukan perintah Taurat itu sendiri. Lihat saja, bagaimana Injil menceritakan usaha mereka “membeli” Yudas dengan 30 keping perak. Politik memecah, dan memanfaatkan kekuatan dalam yang mereka lakukan sukses besar. Para ahli Taurat cukup cerdik mengenali orang yang bisa mereka beli. Berhasil membeli Yudas, mereka juga membeli saksi palsu yang memberatkan Yesus. Aturan Taurat tentang saksi, supaya bukan saksi dusta, mereka tabrak. Lagi-lagi ironinya ahli Taurat, tak berhenti mengadakan saksi yang berdusta, mereka menghimpun massa dan mencipta skenario bobrok, tak beretika. Wajarlah jika Yesus menyebut para ahli Taurat, bak kuburan berlabur putih yang dalamnya busuk tak tertahankan.

Tak berhenti di situ, maka untuk mendapatkan pengesahan hukum Roma, yaitu dengan target menyalibkan Yesus, mereka membawa kasus ini ke Pilatus. Lobi politik, dan tekanan massa dimanfaatkan maksimal oleh penggila kuasa ini. Hasilnya cukup mencengangkan, keputusan Pilatus berhasil mereka pengaruhi. Motto dunia hukum terabaikan, yaitu lebih baik membebaskan orang bersalah daripada menghukum orang yang benar. Ya, di sini, di keterlibatan para ahli Taurat, pemimpin agama, justru yang benar, bahkan sangat benar, dihukum dengan ganti yang salah. Barabas, narapidana kelas berat, dibebaskan tanpa syarat. Aroma tak sedap segera merebak. Bayangkan, nurani istri Pilatus masih berbunyi, sekalipun dia “asli” kafir. Dia gelisah dengan kasus Yesus dan meminta suaminya untuk tak mencampurinya, karena merasa yakin Yesus tak bersalah. Tapi ahli Taurat tak merasa tergugat, mereka yang merasa suci, umat pilihan, tetap saja dengan kebebalannya, membuat Yesus menjadi sasaran utama yang tak boleh meleset.

Di pengadilan yang tak adil itu mereka meraih sukses besar. Ya, mereka selalu sukses untuk berbuat jahat. Ironis, ahli Taurat sukses menjadi pendosa. Keputusan penyaliban Yesus sah sudah, legal secara hukum. Secara yuridis Roma Yesus terpidana, sekalipun de facto DIA benar seratus persen.

Sesudah penyaliban, kisah kebangkitan menjadi gegap gempita. Kebenaran tak lagi bisa dibantah, namun tetap saja, para ahli Taurat tak kekurangan siasat. Lagi-lagi dana dikucurkan, serdadu pun disuap (Matius 28:11-15). Ah, batin tersentak, ahli Taurat ternyata sangat jahat, politik uang tampak nyata di dalam “gereja”, institusi agama ternyata tak beda dengan institusi politik. Semua berpacu memuaskan nafsu, meraih kekuasaan dengan membeli “kepercayaan”. Doa, khotbah, ritual agama lainnya, ternyata ampuh sebagai baju penipuan. Uang menunjukkan taringnya mengatur pemuka agama, membeli atas nama agama.read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

KETIKA NUBUATAN DIUANGKAN September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

BILEAM bin Beor adalah nama klasik dalam Alkitab, yang tercatat sebagai penjual nu-buat (2 Petrus 2:15-16). Dalam kisah Bileam di kitab Bilangan 22, digambarkan Bileam selalu berusaha untuk mencari peluang untuk mendapat keuntungan dari Balak, namun dia selalu dihalangi Tuhan untuk mengutuki Israel.

Balak berusaha keras untuk membeli Bileam dengan harga yang sangat tinggi untuk mengu-tuki Israel. Sementara Bileam berusaha keras untuk mendapat-kan kesempatan beroleh keuntu-ngan ekstra sesuai job nya sebagai penenung. Namun Tuhan tak pernah membiarkannya, sehingga Bileam tak mampu mengutuki Israel, bahkan sebaliknya menyata-kan berkat Tuhan atas Israel. Nama Bileam di dalam Perjanjian Baru (PB), dijadikan simbol kesesatan dan keserakahan.

“Meng-uang-kan nubuatan” ternyata telah menjadi trend sejak dulu kala. Banyak orang mengaku menjadi orang bijak dan suci, ternyata tak lebih dari hamba uang yang bekerja dengan pertolongan setan. Setan menolong mereka dengan kemampuan melihat, me-ngetahui, dan mengatakan de-ngan daya tarik, bahkan kuasa. Na-mun sesuatu yang namanya dari setan, tentu saja serba imitasi alias palsu, sekalipun nama TUHAN disebut disana. Hanya, repotnya, banyak umat yang tergoda dan tak mampu membedakan mana yang dari Tuhan atau setan.

Paulus berkata, iblis itu bisa tampil seperti malaikat terang (2 Korintus 11:14), menyebut diri utusan Tuhan dan suci. Bahkan dalam san-diwaranya, mereka men-setan-kan setan, yang menjadi tuannya. Me-reka mengutuknya, seakan mereka anti-setan padahal pengikutnya. Sebuah sandiwara tingkat tinggi ala setan. Memanipulasi ayat-ayat suci, seakan mereka pelaku, bahkan ekstra membuktikan diri dengan hal-hal yang fisik. Padahal Alkitab jelas berkata pohon dikenal dari buah-nya, perbuatannya. Lihatlah buah kehidupan mereka, maka pasti akan mengejutkan. Mereka mengajar memberi kepada Tuhan tanpa hi-tung-hitungan, tapi mereka sendiri menumpuk uang untuk diri. Aneh tapi nyata, tapi itulah realitanya.

Di era raja Ahab (1 Raja-raja 22), tersebutlah nama Nabi Zedekia. Dia kepala 400 nabi (ay.6). Zedekia ber-nubuat bersama para nabi yang berjumlah 400 itu (ay.12). Nubua-tan yang bermaksud meneguhkan persekutuan Yosafat raja Yehuda, dengan Ahab raja Israel, untuk melawan raja Aram. Melihat jum-lahnya, nubuatan para nabi itu sa-ngat meyakinkan saling menguat-kan. Konfirmasi, istilah kerennya. Mana mungkin 400 nabi salah.

Di situasi itu rupanya Yosafat masih merasa kurang nyaman, sehingga diundanglah Nabi Mikha yang terkenal lurus. Ketika utusan menemui Mikha, pesan sponsor pun disampaikan (ay.9, 13-14). Namun Mikha bernubuat sesuai kehendak TUHAN, yang ternyata berbeda dengan Zedekia, bahkan membuat Zedekia marah dan menampar Mikha (ay.24). Zedekia beragurmentasi bahwa Roh TUHAN ada pada dirinya. Dengan segera kita akan melihat dua kubu.

Zedekia adalah nabi istana yang dihidupi istana, yang mendapat kekayaan dan tumpukan materi, yang membuat dia bernubuat se-suai orderan raja. Zedekia sebagai pemimpin para nabi memang ahli meng-uang-kan nubuatan. Baginya itu adalah berkat Tuhan yang melimpah.
Sementara Mikha adalah seorang abdi sejati yang hanya bernubuat sesuai kehendak TUHAN. Hidup dalam kesederhanaan, bahkan be-rakhir di penjara karena berani ber-beda dengan raja. Orang berprinsip kebenaran seperti Mikha, semakin hari memang semakin langka.

Melompat ke PB, kita dengan segera bertemu Simon si tukang sihir, yang bermaksud membeli kuasa Roh Kudus dari Petrus (Kisah 8:9,18-20). Tentu saja Petrus me-negurnya dengan keras. Simon berpikir kuasa Roh Kudus bisa diperjualbelikan dan akan menda-tangkan keuntungan. Paulus di Ko-rintus dengan tegas berkata tidak mencari keuntungan dari pembe-ritaan Firman, tidak seperti yang lainnya meraup uang (2 Kor 2: 17).read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

MEMBERI UNTUK MEMBELI September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

MEMBERI dan membeli adalah dua kata, namun punya makna yang sangat berbeda, sekalipun tindakannya sama, yaitu, sama-sama mengeluarkan dana. Memberi, berarti ada pengeluaran dana, namun tanpa menerima apa pun juga. Memberi harus tanpa pamrih, artinya motivasi tulus. Memang tak mudah memberi tanpa pamrih. Memberi menuntut keluhuran budi. Tapi harus diingat, memberi seperti itulah yang Tuhan kehendaki.

Ingat janda miskin dalam cerita Injil (Lukas 21:1-4), dia memberi tanpa memperhitungkan diri, dan banyak orang pasti meremehkan pemberiannya. Maklum, secara kuantitas berapalah yang bisa diberikan oleh seorang janda yang miskin. Namun Yesus memandang dengan cara yang berbeda, Dia melihat jauh ke dalam lubuk hati si janda, motivasi yang murni, rasa syukur yang besar. Jumlah kecil 2 peser yang diberi janda miskin itu menjadi besar secara kualitas, dan tentu saja, juga sangat besar dalam jumlah bagi sang janda yang miskin.

Sementara membeli, mengeluarkan dana untuk mendapatkan sesuatu. Apa pun sesuatu itu, yang pasti ini transaksi. Membeli bisa untuk kepentingan diri, atau bahkan hanya sekadar pemuas nafsu diri, yang seringkali bisa jadi tidak terkendali. Membeli, bagi beberapa orang bahkan bisa jadi “hobi”. Konsumerisme, penyakit membeli yang sangat menakutkan. Mengonsumsi apa saja yang ditawarkan, sekalipun seringkali tidak dibutuhkan. Membeli yang dipajang, bukan karena kebutuhan, melainkan sekadar menyenangkan mata yang tidak pernah puas. Atau, yang lebih menyakitkan, membeli dengan memaksa diri, hanya untuk sebuah gengsi yang tak berarti.

Di Amerika, ternyata banyak pembelanja yang terjerat hutang. Tanpa perhitungan matang, sangat mudah mereka “menggesek” kartu kreditnya, yang dengan segera menjadi kartu macet. Bagi pasangan suami-istri, tak jarang hal itu menjadi awal pertikaian yang berakhir dengan perceraian. Risiko membeli hanya sekadar kepuasan diri bukan kebutuhan utuh.

Nah, bagaimana dengan memberi untuk membeli? Ini adalah sebuah fenomena menarik yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bisa politis, tapi juga rohani, dan yang terakhir ini yang bahaya. Politis? Ya, untuk ini kita sering mendengar istilah money politics. Memberi kepada rakyat miskin, seakan peduli dan penuh perhatian, namun sejatinya, yang mereka harapkan adalah simpati dari rakyat untuk berbaris menjadi pemilih mereka. Sebuah pembodohan yang mengerikan, karena memanfaatkan kemiskinan untuk mendulang keuntungan. Sementara di sisi lain, rakyat miskin perlu uang untuk menyambung hidup. Orang yang seharusnya diberi simpati, dibantu tanpa pamrih, justru dimanfaatkan, ya kemiskinannya, ya ketidaktahuannya, ya keluguannya. Siapa yang memanfaatkannya? Ya mereka yang kaya, yang berpendidikan, dan sekaligus licik dan munafik. Bagi mereka, segala cara adalah sah.

Memberi untuk membeli menjadi alat ampuh, mendapat keuntungan ganda. Untung dari si penerima yang tertipu, untung juga dari rasa terimakasih penerima yang memilih bahkan menyanjung mereka dengan sebutan “tuan baik”. Menarik sekali ketika Alkitab berkata: “Jika engkau memberi sedekah janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Matius 6:3). Alkitab bukan hanya melarang untuk mengambil keuntungan nilai (uang, suara, dan lain-lain), bahkan kemegahan diri juga dibenci. Jika memberi, cukuplah dengan memberi, tanpa embel-embel lain. Memberilah dengan ucapan syukur karena telah menerima dari Tuhan, dan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memberi kepada mereka yang membutuhkan. Alangkah luhurnya memberi jika yang memberi menyadari nilai memberi itu sendiri.

Kisah tragis memberi telah menimpa Ananias dan Safira (Kisah 5:1-11). Pasangan suami istri yang sehati untuk memberi sekaligus berdusta atas pemberiannya. Mereka memberi dengan harapan tercatat orang yang rohani. Agar tampak penuh rohani mereka mengaku memberi seluruh miliknya, padahal menahan separuhnya. Ya, tampak sangat rohani ketika memberi, namun saat bersamaan sangat busuk di dalam hatinya. Orang yang baik itu, ternyata hanya tampaknya baik, namun penuh selubung motivasi tersembunyi. Ananias memberi untuk pekerjaan rohani dengan hati yang dikuasai iblis. Ironis! Upah “pemberiannya”, Tuhan mencabut nyawanya. Padahal “Ananias” artinya “Tuhan telah mengampuni”. Tragis! Belum usai kekagetan banyak orang, istrinya menyusul dengan kisah dusta yang sama. Soal berdusta, keduanya seia sekata, bekerja sama dengan luar biasa. Hasilnya juga sama, Safira harus digotong ke pekuburan sebagai upah persekongkolannya.

Sulit melukiskan “kemalangan” pasangan ini. Saat itu ketakutan melanda banyak orang. Namun dalam perguliran waktu, kematian tak selalu mengikuti dusta para “pencuri rohani”. Ini yang lebih menakutkan, karena tampaknya Tuhan membiarkan pemberi model ini “sukses”. Kesuksesan demi kesuksesan membuat mereka terlena, dan ketika terjaga ternyata mereka telah berhadapan dengan Sang Suci di pengadilan suci yang tak ada manipulasi. Pengadilan di kekekalan. Tak lagi ada kesempatan untuk pengakuan, kecuali hukuman atas kesuksesan yang telah meraka raih di muka bumi, yakni “memberi untuk membeli”.

Fenomena pemberian terselubung telah melahirkan saingan yang di dunia kejahatan yang dikenal dengan istilah money laundry, maka dalam dunia rohani terlahir dengan nama sin laundry model Ananias. Ini lebih ngeri. Di dunia jahat, berbuat jahat adalah kelaziman. Tapi di dunia rohani, sungguh menyedihkan. Di kehidupan sekarang, terasa semakin tipis beda benar dan salah. Bisnis dirohanikan, rohani dibisniskan. Bisnis dirohanikan, berslogan menegakkan kebenaran, dan semuanya untuk pelayanan, untuk kemuliaan Tuhan. Namun di kenyataan, semua hanya untuk keuntungan diri, memperkaya diri, dan lebih gila lagi menghalalkan segala cara. Memperjualbelikan kata “memberi” untuk membeli, meraup keuntungan.read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com

MENJAJAKAN KEBENARAN September 29, 2009

Posted by kedung in http://matahati.reformata.com.
add a comment

BAIT Suci disucikan? Sebuah pertanyaan sederhana yang sungguh tidak sederhana. Sederhana, jika itu adalah ritual penyucian, seperti didoakan, atau lainnya. Namun menjadi tidak sederhana, jika itu menyangkut kualitas, spritualitas, sehingga Bait Suci perlu disucikan. Apalagi jika Yesus, Anak Allah, Sang Suci, yang melakukannya. Bukankah Bait Suci itu tempat suci yang seharusnya tak perlu disucikan? Namun itulah kenyataannya, Bait Suci, disucikan. Dalam catatan Alkitab peristiwa itu jelas sekali. Keempat Injil mencatatnya (Yohanes 2: 13-25, Matius 21: 12-17, Markus 11: 15-19, Lukas 19: 45-48).

Bait Suci, tempat beribadah itu ternyata telah hiruk-pikuk dengan aneka kegiatan dagang. Di sana ada pedagang merpati, domba, kambing, bahkan lembu. Wow, betapa luasnya area yang mereka gunakan. Belum lagi bau yang ditimbulkan, pasti sangat mengganggu, terutama ketika angin bertiup. Di sebelah lain, tak kalah sibuknya adalah para penukar uang. Mereka bagaikan money changer di era modern yang siap menanti pembeli, khususnya yang datang dari kota lain untuk beribadah (orang Yahudi perantauan, atau yang lainnya).

Apa yang salah di sana? Praktek dagangnya atau yang lainnya? Yang pasti, kritik Yesus dalam Matius 21:13, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun”. Siapa yang menyamun alias merampok? Dalam prakteknya, ada berbagai informasi. Para pedagang binatang kurban, yang dagangannya dibutuhkan oleh umat, ternyata mencantumkan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Mark up, istilah kerennya. Mengapa umat tak membeli di pasar? Sulit, karena bisa dipersulit oleh penilai, alias quality control, yang sering kali tidak meluluskan binatang yang dibawa sebagai kurban yang layak.

Ada ketentuan tentang kurban yang diatur dalam kitab Imamat. Nah, di sinilah para penilai bermain mata dengan pedangang di halaman Bait Suci. Karena seluruh kurban yang dibeli dari pedagang di Bait Suci pasti lolos dan dianggap layak. Sementara yang dibeli di pasar seringkali ditolak. Namun ada konsekuensinya, yakni umat harus membayar lebih mahal jika membeli di halaman Bait Suci. Terjadilah kolusi antara pedagang dengan para imam dan petugasnya. Harga lebih mahal, memang mempermudah pembelian dan kelayakan kurban, tapi, juga memeras umat yang berada pada posisi lemah.

Hal seperti ini sudah terjadi sejak dulu kala. Amos berteriak atas kecurangan para imam yang seharusnya menjadi penggembala domba, bukan pemerah domba. Begitu juga di bisnis money changer, kurs yang diberlakukan selalu merugikan umat. Dan, lagi-lagi menguntungkan pedagang dan juga imam. Kebanyakan imam sangat bergairah ke Bait Suci, bukan untuk pelayanan melainkan pemerasan, bukan juga untuk mencari kekudusan tapi kolusi dengan pedagang. Dengan topeng pelayanan, mereka meraup keuntungan. Aroma transaksi dagang di Bait Suci jauh lebih kental dibanding ibadah suci yang menyenangkan hati Tuhan. Jadi, tidaklah mengherankan jika Yesus bertindak radikal, dengan menjungkirbalikkan meja dan bangku para pedagang. Tentu saja ini sangat menjengkelkan para imam dan pedagang. Jadi, tidaklah juga mengherankan jika mereka sangat berambisi untuk menghabisi Yesus. Walaupun kebanyakan umat merasa terbela, namun, tidak serta-merta mereka menjadi pengikut Yesus yang setia. Karena tak sedikit pula umat yang oportunis.

Ya, Yesus telah mengganggu arus pundi-pundi para imam dan pedagang, yaitu uang haram yang selama ini lancar dan “suci”, karena “disucikan” lewat pelayanan berkedok. Imam yang tak “beriman” melainkan mata duitan, pelayan yang tak “melayani” melainkan membebani, gembala yang tak “menjaga” melainkan memerah, pemimpin yang tak “memimpin” melainkan mempermainkan. Ibadah menjadi penuh kepalsuan. Asal membayar lebih, asal mengikuti ketentuan yang dibuat para imam, pengampunan dosa diperjualbelikan. Dan, celakanya, ternyata umat bisa jadi pembeli yang tak selektif. Mungkin merasa sama-sama diuntungkan. Yang satu untung uang, yang lain untung pengakuan, dan tak dikucilkan, belum lagi bisa lolos dari hukuman dosa (hukuman fisik).

Jadi, tidaklah mengherankan jika praktek seperti ini berjalan cukup lancar. Dan, posisi Yesus terasa sulit, berhadapan dengan para imam atas nama agama, pedagang atas nama usaha, dan umat atas nama rakyat banyak. Apalagi jika banyak diidentikkan dengan kebenaran, maka Yesus adalah pesakitan. Ngerinya, sosok kepalsuan yang bisa memutarbalikkan fakta, menjadi lebih mengerikan lagi karena hal ini sering sukses. Lihat saja, “sukses besar” mereka menyalibkan Yesus Kristus dengan memengaruhi orang banyak, membayar Yudas dengan 30 keping perak, bahkan menekan Pilatus memenuhi “order hukuman”.read more…
Ditulis untuk Tabloid Reformata/www.reformata.com